You are currently viewing Barometer Nashb dan Rofdh: Ahlul Bait, Sahabat & Sunnah

Barometer Nashb dan Rofdh: Ahlul Bait, Sahabat & Sunnah

Merajut Cinta di Antara Sahabat dan Ahlul Bait: Meniti Manhaj Wasathiyah Ahlus Sunnah wal Jamaah

Pendahuluan

Dinamika pemikiran dalam sejarah Islam kerap diwarnai oleh berbagai arus ekstremitas, salah satunya adalah perpecahan dalam menyikapi figur-figur mulia yang berada di sekeliling Rasulullah ﷺ. Di satu sisi, terdapat kelompok yang bersikap berlebihan dalam mengagungkan Ahlul Bait hingga mencela para Sahabat (Ar-Rofdh). Di sisi lain, terdapat pula kelompok yang menanamkan kebencian atau berpaling dari keutamaan keluarga Nabi ﷺ (An-Nashb).

Menghadapi polarisasi ini, para ulama mazhab, khususnya Imam asy-Syafi’i rahimahullah, merumuskan sebuah jalan tengah yang berpijak pada keadilan objektif: mencintai Ahlul Bait dan para Sahabat secara paripurna tanpa diskriminasi.

Tiga Barometer Keimanan: Nashb, Rofdh, dan Sunnah

Dalam khazanah keilmuan Islam, sikap hati seseorang terhadap figur-figur mulia di masa kenabian dapat diukur melalui tiga neraca utama:

  1. Barometer Nashb (Kebencian kepada Ahlul Bait): Suatu kondisi ketika seseorang merasa benci, enggan, atau menolak saat mendengar riwayat-riwayat sahih mengenai keutamaan keluarga Nabi ﷺ. Sikap ini merefleksikan deviasi hati dari kecintaan yang semestinya diberikan kepada darah daging Rasulullah ﷺ.
  • Barometer Rofdh (Pengingkaran kepada Para Sahabat): Kecenderungan untuk antipati, mencela, atau menutup mata terhadap keutamaan para sahabat utama Nabi ﷺ (seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman r.anhum), yang merupakan pilar-pilar penegak dakwah Islam gelombang pertama.
  • Barometer Sunnah (Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah): Standar emas keimanan, di mana hati seorang mukmin senantiasa terpaut, merespons positif, dan mencintai baik Ahlul Bait maupun para Sahabat secara bersamaan dalam bingkai kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Syair Monumental Imam asy-Syafi’i: Menepis Tuduhan Ekstrem Kanan dan Kiri

Realitas sosial di masa lampau sering kali menempatkan orang-orang yang objektif dalam posisi dilematis di antara dua kelompok ekstrem. Seseorang yang mencintai keluarga Nabi ﷺ sering kali dituduh sebagai Rafidhah oleh kalangan yang tidak memahami hakikat ilmu, sementara orang yang mengakui keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq dituduh sebagai Nasibi.

Menanggapi tuduhan yang dilandasi oleh kejahilan tersebut, Imam asy-Syafi’i rahimahullah melantunkan sebuah bait syair yang sarat akan hikmah dan keteguhan prinsip (dihimpun dalam Manaaqib Asy-Syaafi’iy karya Al-Raaziy, hlm. 140-143):

#‎إذا نحن فضلنا عليا فإننا روافض بالتفضيل عند ذو الجهل

وفضل أبي بكر إذا ما ذكرته رميت بنصب عند ذكري للفضل# فلا زلت ذا رفض ونصب كلاهما,بحبيهما حتى أوسد في الرمل.

Jika kami menyebutkan keutamaan Sayyidina Ali r.a, maka kami dianggap sebagai Rafidhah kerana kami menyebut akan keutamaannya di mata orang yang jahil.

Sedangkan keutamaan Sayyidina Abu Bakar, jika aku sebutkan, maka aku dituduh Nasibi (golongan yang memusuhi Ahlul Bait Nabi ﷺ).

Maka aku senantiasa menjadi Rafidhi dan Nasibi sekaligus, dengan mencintai keduanya sampai aku terkubur di dalam tanah.

Syair agung ini bukan sebuah pengakuan atas kesesatan, melainkan sebuah sindiran filosofis yang cerdas. Imam asy-Syafi’i menegaskan bahwa ukuran kecintaan sejati kepada Sunnah adalah memadukan penghormatan tertinggi kepada Khalifah Abu Bakar dan keagungan martabat Sayyidina Ali karamallahu wajhah, tanpa harus mengorbankan salah satunya.

Kesimpulan

Harmonisasi antara kecintaan kepada Ahlul Bait dan penghormatan kepada para Sahabat merupakan manifestasi nyata dari manhaj wasathiyah (moderat) dalam Islam. Seorang Muslim yang berada di atas jalur Ahlus Sunnah wal Jamaah memandang para Sahabat sebagai teladan utama dalam periwayatan syariat dan perjuangan menegakkan agama, sekaligus memuliakan Ahlul Bait sebagai manifestasi kecintaan kepada Rasulullah ﷺ melalui keturunan beliau. Kedua unsur ini ibarat dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan dalam merawat keutuhan akidah dan kelurusan spiritual umat Islam.

Sumber: Kitab Manaaqib al-Imam Asy-Syaafi’iy karya Imam Ar-Raaziy.