Ada sebuah pelajaran menarik tentang takdir, hidayah, dan kekuasaan Allah yang dapat direnungkan dari kisah dua sosok bernama Musa. Dalam sebuah ungkapan hikmah yang beredar di masyarakat, dikisahkan tentang seseorang yang diasuh malaikat tetapi berakhir dalam kekufuran, sementara Musa lainnya dibesarkan Fir‘aun, seorang penguasa yang mengaku sebagai tuhan, tetapi justru tumbuh menjadi nabi Allah.
Ungkapan ini perlu dipahami sebagai perumpamaan reflektif, bukan kisah sejarah yang dapat dipastikan kebenarannya. Namun, pesan moralnya mengajak kita merenungkan bahwa lingkungan dan pengasuhan memang berpengaruh terhadap manusia, tetapi tidak sepenuhnya menentukan akhir perjalanan hidupnya.
Nabi Musa a.s. tumbuh di lingkungan istana Fir‘aun setelah diselamatkan dari ancaman pembunuhan terhadap bayi laki-laki Bani Israil. Allah mengatur agar Musa justru dibesarkan di rumah orang yang kelak menjadi lawan dakwahnya. Sebagaimana diceritakan dalam QS. Al-Qasas ayat 7–13, keselamatan Musa merupakan bagian dari ketetapan dan pemeliharaan Allah.
Kisah tersebut mengajarkan bahwa tempat seseorang dibesarkan tidak selalu menentukan siapa dirinya kelak. Lingkungan yang buruk tidak otomatis menjadikan seseorang buruk, sebagaimana lingkungan yang baik pun tidak menjamin seseorang akan selalu berada di jalan kebenaran. Manusia tetap memiliki tanggung jawab atas pilihan, sikap, dan tindakannya.
Karena itu, jangan terlalu cepat menghakimi seseorang berdasarkan latar belakang keluarganya, tempat pendidikannya, atau lingkungan pergaulannya. Bisa jadi, seseorang yang tumbuh dalam keterbatasan justru memiliki keteguhan iman dan akhlak yang luar biasa. Sebaliknya, orang yang berada di lingkungan terhormat tetap perlu menjaga diri agar tidak terjerumus dalam kesombongan.
Kisah Musa juga mengingatkan kita agar tidak berputus asa dalam mendidik dan membimbing orang lain. Tugas kita adalah memberikan teladan, nasihat, dan lingkungan yang baik, sedangkan hidayah merupakan hak Allah. Kita tidak boleh merasa paling berjasa atas keberhasilan seseorang, tetapi juga tidak boleh berhenti berusaha ketika menghadapi kesulitan.
Pada akhirnya, bukan semata-mata di mana seseorang dibesarkan yang menentukan kemuliaannya, melainkan bagaimana ia merespons kehidupan, memilih jalan kebenaran, dan menjaga hubungannya dengan Allah. Tugas kita bukan meramalkan akhir hidup seseorang, melainkan terus memperbaiki diri dan berusaha menjadi sebab hadirnya kebaikan bagi orang lain.

Penulis: Abdullah,S.Pd