Dari Briefing menuju Munajat: Ikhtiar Asatidz Menghidupkan Tahajud di Ma’had Khulafaur Rasyidin Insan Mandiri Cibubur
Suasana dini hari di Ma’had Khulafaur Rasyidin Cibubur kembali dipenuhi semangat ruhiyah para asatidz. Menjelang waktu subuh, para guru dan pembimbing berkumpul dalam agenda briefing harian yang telah menjadi bagian penting dari ritme tarbiyah di lingkungan ma’had. Kegiatan ini bukan sekadar koordinasi biasa, tetapi menjadi ruang untuk saling menguatkan, mengevaluasi perkembangan santri, sekaligus mempererat ukhuwah antar asatidz dalam mengemban amanah pendidikan. Semangat saling menasihati dalam kebaikan ini selaras dengan firman Allah Swt.:
﴿وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ﴾
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–3)
Briefing yang dilaksanakan sebelum membangunkan santri untuk qiyamul lail dan persiapan subuh tersebut dipimpin langsung oleh Mudir Ma’had, Sayyid Abdul Qodir Assegaf, serta diikuti oleh seluruh asatidz. Dalam suasana yang penuh kekhidmatan, para pembimbing melakukan review terhadap kegiatan santri selama sehari penuh, mulai dari kedisiplinan ibadah, kebersihan lingkungan, hingga perkembangan adab dan pembinaan keseharian di ma’had. Hal ini menunjukkan besarnya amanah pendidikan dalam Islam. Rasulullah saw. bersabda:
«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Kegiatan briefing ini menjadi bukti bahwa pendidikan di pesantren tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga hidup dalam kebersamaan, keteladanan, dan pengawasan yang terus menerus. Para asatidz tidak hanya bertugas mengajar, namun juga membersamai perjalanan ruhiyah santri, bahkan sejak sepertiga malam terakhir. Qiyamul lail sendiri merupakan ibadah yang memiliki kedudukan agung dalam Islam. Allah Swt. berfirman:
﴿وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ ۖ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا﴾
“Dan pada sebagian malam hari, bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isrā’: 79)
Pada kesempatan tersebut, briefing mendapat kehormatan dengan hadirnya Ketua Yayasan Pendidikan Silaturahim Jatisampurna, Bapak Ihsan Thalib, yang memberikan sambutan penuh motivasi dan penguatan kepada seluruh asatidz. Dalam arahannya, beliau mengingatkan pentingnya memanfaatkan momentum bulan Dzulhijjah sebagai bulan yang penuh keutamaan dan kesempatan besar untuk memperbanyak amal saleh.
Beliau menyampaikan penguatan ilmiah mengenai fadilah puasa dan amal ibadah pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, yang dikenal sebagai hari-hari terbaik dalam Islam. Rasulullah saw. bersabda:
«مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ»
“Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini,” yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah. (HR. al-Bukhari)
Para asatidz diajak untuk terlebih dahulu menghidupkan semangat ibadah dalam diri mereka agar dapat menjadi teladan bagi para santri. Sebab keteladanan merupakan inti pendidikan dalam Islam. Allah Swt. berfirman:
﴿لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ﴾
“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzāb: 21)
Semangat qiyamul lail, puasa sunnah, dzikir, tilawah, dan amal kebajikan lainnya diharapkan semakin tumbuh di lingkungan ma’had selama bulan mulia ini. Dengan demikian, para asatidz tidak hanya mengarahkan santri melalui lisan, tetapi juga melalui contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Selain penguatan ruhiyah, beliau juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan ma’had. Kebersihan dipandang bukan hanya sebagai aspek fisik semata, tetapi juga bagian dari pendidikan karakter dan pembentukan kedisiplinan santri. Rasulullah saw. bersabda:
«الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ»
“Kebersihan adalah sebagian dari iman.”
(HR. Muslim)
Lingkungan yang bersih dan tertata akan melahirkan kenyamanan belajar serta mencerminkan nilai-nilai Islam yang mencintai kebersihan dan kerapian. Dengan demikian, pendidikan di ma’had tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga membangun kesadaran spiritual dan budaya hidup yang tertib serta bersih.
Melalui briefing harian ini, tampak jelas bagaimana Ma’had Khulafaur Rasyidin Cibubur berupaya membangun pendidikan yang menyentuh seluruh aspek kehidupan santri: spiritual, intelektual, kedisiplinan, hingga akhlak keseharian. Dari briefing sederhana menjelang subuh itulah lahir semangat munajat, ukhuwah, dan khidmah yang terus menghidupkan ruh pesantren. Sebab sejatinya, pendidikan bukan hanya tentang transfer ilmu, tetapi juga tentang menanamkan keteladanan, membangun kebiasaan baik, dan menghidupkan hati agar senantiasa dekat kepada Allah Swt.
Oleh: Abdullah, S.Pd (Musyrif Mahad Khulafaur Rasyidin Insan Mandiri Cibubur)