Ayah Santri Insan Mandiri Cibubur Ikuti MABIT di Mahad Khulafaur Rasyidin, Pererat Ikatan dan Perkuat Nilai Kehalalan
CIBUBUR – Ayah santri dari SMPIT-SMAIT Insan Mandiri Cibubur mengikuti kegiatan MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa) yang diselenggarakan di Mahad Khulafaur Rasyidin Insan Mandiri Cibubur pada 28 Februari hingga 1 Maret 2026. Kegiatan ini menjadi momentum istimewa dalam mempererat hubungan antara ayah dan putra-putranya yang saat ini menempuh pendidikan dan tinggal di asrama (mahad).
Program MABIT Ayah Santri ini dirancang sebagai upaya strategis sekolah dalam membangun sinergi antara pendidikan keluarga dan pendidikan berbasis asrama. Tidak hanya sekadar bermalam, para ayah diajak untuk merasakan langsung atmosfer pembinaan karakter dan spiritual yang dijalani putra mereka setiap hari.
Agenda Spiritual: Tadarus, Salat, hingga Sahur Bersama
Kegiatan dimulai dengan Tadarus Al-Qur’an bersama, menciptakan suasana yang khusyuk dan penuh kekhidmatan. Ayah dan anak duduk berdampingan, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan penuh penghayatan. Momen ini menjadi pengalaman emosional yang mendalam, karena tidak sedikit ayah yang jarang memiliki waktu khusus untuk membaca Al-Qur’an bersama putranya di rumah.
Selain itu, peserta juga melaksanakan Salat Wajib berjamaah, dilanjutkan dengan Salat Tarawih bersama. Suasana kebersamaan semakin terasa ketika seluruh peserta MABIT mengikuti sahur bersama di lingkungan mahad. Sederhana namun sarat makna, sahur bersama ini menjadi simbol kebersamaan, kedisiplinan, dan kesetaraan dalam kehidupan asrama.
Melalui rangkaian ibadah ini, para ayah dapat menyaksikan secara langsung bagaimana sistem pembinaan spiritual diterapkan di Mahad Khulafaur Rasyidin, mulai dari kedisiplinan waktu, adab di masjid, hingga kebersihan dan kerapian lingkungan.
Tausiah Menyentuh dari Ustadz Husein Alatas
Salah satu agenda utama dalam MABIT Ayah Santri ini adalah tausiah yang disampaikan oleh Ustadz Husein Alatas sebelum pelaksanaan Salat Tarawih. Dalam ceramahnya, beliau menyampaikan materi yang sangat menyentuh hati tentang pentingnya mengonsumsi makanan yang halal dan thayyib.
Beliau menekankan bahwa makanan yang masuk ke dalam tubuh bukan hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga membentuk karakter, akhlak, dan kecenderungan perilaku seseorang. Proses memperoleh makanan yang tidak halal, menurut beliau, dapat menjadi pintu masuk terjerumusnya seseorang ke dalam dosa-dosa yang lebih besar.
Dalam tausiah tersebut, beliau juga mengingatkan kisah Nabi Adam ‘alaihissalam yang pada akhirnya harus diturunkan ke bumi karena melanggar larangan Allah dengan memakan buah yang dilarang. Pesan ini menjadi refleksi mendalam bahwa pelanggaran terhadap perintah Allah, meskipun tampak sederhana, dapat membawa konsekuensi besar.
“Dari makanan yang masuk ke dalam perut istri dan anak, di situlah akan tumbuh karakter sebagaimana asupan yang ayah berikan,” ungkap beliau dalam tausiahnya. Pesan ini menggetarkan hati para peserta MABIT, terutama para ayah yang memiliki tanggung jawab utama dalam mencari nafkah bagi keluarga.
Materi tentang halal dan thayyib ini menjadi pengingat kuat bahwa peran ayah bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai penjaga keberkahan keluarga.
Orang Tua Rasakan Langsung Kehidupan Asrama
Para ayah santri mengaku sangat bersyukur dan berterima kasih atas terselenggaranya kegiatan ini. Mereka merasakan pengalaman yang berbeda karena dapat menjalani proses pembelajaran dan pembinaan di asrama, meskipun hanya dalam waktu satu malam.
Banyak di antara mereka yang mengaku lebih memahami tantangan serta rutinitas yang dijalani putra-putranya setiap hari. Mulai dari bangun malam, menjaga kedisiplinan ibadah, hingga mengikuti jadwal kegiatan yang terstruktur. Pengalaman ini membuat para ayah semakin menghargai proses pendidikan karakter yang diterapkan di Mahad Khulafaur Rasyidin.
Kegiatan MABIT Ayah Santri ini juga memperkuat komunikasi emosional antara ayah dan anak. Dalam suasana kebersamaan yang jauh dari distraksi dunia luar, terjalin dialog yang lebih terbuka, penuh kehangatan, dan sarat nasihat.
Komitmen Pendidikan Karakter Berbasis Keluarga
Melalui kegiatan ini, Insan Mandiri Cibubur menunjukkan komitmennya dalam membangun pendidikan karakter berbasis kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Pendidikan di asrama bukan hanya tanggung jawab lembaga, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif orang tua, khususnya ayah sebagai figur kepemimpinan dalam keluarga.
MABIT Ayah Santri di Mahad Khulafaur Rasyidin bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bagian dari strategi pembinaan generasi muslim yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Dengan menghadirkan pengalaman langsung bagi orang tua, diharapkan terbangun kesamaan visi dalam mendidik anak, terutama dalam menjaga kehalalan rezeki dan membentuk karakter islami sejak dini.
Kegiatan yang berlangsung pada 28 Februari hingga 1 Maret 2026 ini pun ditutup dengan penuh haru dan doa bersama. Harapannya, kebersamaan singkat ini menjadi awal dari komitmen yang lebih kuat antara ayah dan anak dalam meniti jalan kebaikan.
Dengan semangat kebersamaan dan keberkahan, MABIT Ayah Santri Insan Mandiri Cibubur menjadi bukti bahwa pendidikan terbaik lahir dari sinergi antara rumah dan sekolah, antara doa ayah dan kesungguhan anak dalam menuntut ilmu.
Oleh: Mas Jo