Kisah Sapi Bani Israil: Berkah Anak Saleh yang Berbakti kepada Ibunya
Di dalam Al-Qur’an, khususnya pada Surah al-Baqarah, terdapat rangkaian ayat yang mengisahkan Bani Israil yang terlalu banyak bertanya kepada Nabi Musa ‘alaihissalam tentang perintah menyembelih seekor sapi. Sekilas, kisah ini tampak sederhana. Namun di balik ayat-ayat tersebut, tersimpan sebuah cerita penuh hikmah yang layak untuk diteladani, yaitu kisah tentang seorang anak saleh yang luar biasa baktinya kepada sang ibu.
Pada masa Bani Israil, pernah terjadi sebuah peristiwa pembunuhan yang menggemparkan. Seorang lelaki miskin tega membunuh kerabatnya—sebagian riwayat menyebut anak saudaranya, sementara riwayat lain mengatakan anak pamannya—demi menguasai harta warisan. Untuk menghilangkan jejak, ia meletakkan jasad korban di persimpangan jalan, lalu berpura-pura datang mengadu kepada Nabi Musa ‘alaihissalam seolah-olah tidak mengetahui apa-apa.
Nabi Musa berusaha menyelidiki kasus tersebut, namun pelakunya belum juga terungkap. Akhirnya, Bani Israil meminta beliau agar memohon petunjuk kepada Allah. Maka Allah pun menurunkan perintah-Nya:
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تَذْبَحُوْا بَقَرَةًۗ
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyembelih seekor sapi.”
(QS. al-Baqarah: 67)
Alih-alih segera melaksanakan perintah tersebut, Bani Israil justru mempertanyakannya secara berlebihan: tentang usia sapi, warnanya, hingga ciri-ciri fisiknya. Pertanyaan demi pertanyaan itu membuat kriteria sapi menjadi sangat spesifik. Hingga akhirnya, sapi yang memenuhi seluruh syarat tersebut ternyata hanya dimiliki oleh seorang pemuda tertentu.
Pemuda itu tidak bersedia menjual sapinya kecuali dengan harga yang sangat mahal, jauh di atas harga pasaran. Karena tidak ada pilihan lain, Bani Israil pun terpaksa membelinya dan menyembelihnya sebagaimana perintah Allah.
Kemudian Allah memerintahkan agar sebagian anggota tubuh sapi tersebut dipukulkan ke jasad korban. Dengan izin Allah, jasad itu hidup kembali dan menyebutkan siapa pembunuhnya. Ternyata, pelakunya adalah lelaki miskin yang sejak awal berpura-pura melapor. Ia pun dijatuhi hukuman mati sebagai balasan atas kejahatannya.
Sapi yang menjadi perantara terungkapnya kebenaran itu ternyata menyimpan kisah tersendiri. Sapi tersebut adalah peninggalan seorang ayah saleh kepada putranya. Sang anak dikenal sebagai pribadi yang sangat berbakti kepada ibunya. Ia membagi waktunya dengan penuh kedisiplinan: sepertiga malam untuk salat, sepertiga untuk tidur, dan sepertiga untuk menemani ibunya.
Pada siang hari, ia mencari kayu bakar, menjualnya, lalu membagi hasilnya menjadi tiga bagian: sepertiga untuk kebutuhan makan, sepertiga untuk sedekah, dan sepertiga lagi untuk ibunya.
Suatu hari, sang ibu memintanya menjual sapi tersebut dengan harga tiga dinar. Pemuda itu pun membawa sapi itu ke pasar. Di sana, Allah mengutus seorang malaikat yang menyamar sebagai manusia. Malaikat itu bertanya, “Berapa harga sapi ini?”
Pemuda itu menjawab, “Tiga dinar, dengan syarat harus atas izin ibuku.”
Malaikat tersebut menawar, “Aku akan membelinya dengan enam dinar, tetapi jangan minta izin ibumu.”
Namun pemuda itu menolak seraya berkata, “Demi Allah, sekalipun engkau memberiku emas seberat tubuh sapi ini, aku tidak akan menjualnya kecuali dengan keridaan ibuku.”
Ia pun pulang dan menyampaikan hal tersebut kepada sang ibu. Mendengar itu, ibunya berkata, “Jika demikian, juallah dengan harga enam dinar, dengan seizinku.”
Keesokan harinya, malaikat kembali datang. Pemuda itu berkata, “Ibuku berpesan agar aku tidak menjualnya kurang dari enam dinar, dan tetap dengan seizinnya.”
Malaikat itu kembali menawar, “Aku akan memberimu dua belas dinar, tetapi jangan meminta izin ibumu.”
Sekali lagi, pemuda itu menolak dan memilih pulang menemui ibunya. Mendengar ceritanya, sang ibu pun menyadari bahwa yang datang bukanlah manusia biasa. Ia berkata, “Wahai anakku, itu adalah malaikat yang sedang menguji baktimu. Jika ia datang lagi, tanyakan apakah Allah memerintahkan kita untuk menjual sapi ini.”
Ketika malaikat itu datang kembali dan ditanya, ia menjawab, “Katakan kepada ibumu agar menyimpan sapi ini. Suatu hari nanti, kalian akan menjualnya dengan harga setara kulitnya yang dipenuhi emas.”
Benar saja, saat peristiwa pembunuhan Bani Israil terjadi, mereka terpaksa membeli sapi tersebut dengan harga yang luar biasa mahal: seisi kulit sapi dipenuhi emas.
Kisah ini mengajarkan bahwa keberkahan hidup tidak terletak pada banyaknya harta, melainkan pada ketaatan kepada Allah, kejujuran, dan bakti kepada orang tua. Karena baktinya kepada sang ibu, pemuda itu tidak hanya menjaga kehormatan dirinya, tetapi juga dianugerahi rezeki dan kemuliaan yang jauh melampaui perkiraannya.
Oleh: Abdullah, S.Pd. (Musyrif Mahad Khulafaur Rasyidin Insan Mandiri Cibubur)
Referensi
Muḥammad bin Muḥammad al-Jurdānī al-Dimyāṭī, Jawāhir al-Lu’lu’iyyah (Mesir: Maktabah al-Īmān), hlm. 100–101.