Bekasi — Upaya memperkuat pendidikan literasi Baitul Maqdis di Indonesia kembali menunjukkan langkah nyata. Pada acara spesial yang digelar di Auditorium Munif Chatib Gedung Insan Mandiri Cibubur, Kota Bekasi, Prof. Abdullah Al Fattah El-Awaisi secara resmi meresmikan penerapan Kurikulum Literasi Baitul Maqdis di tiga sekolah: SMPIT Insan Mandiri Cibubur, SMAIT Insan Mandiri Cibubur, dan SD Silaturahim Islamic School.
Acara ini menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan, khususnya bagi sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Pendidikan Silaturahim Jatikarya (YPSJ) yang terus menunjukkan komitmen kuat dalam mengenalkan dan menanamkan nilai-nilai kecintaan terhadap Al-Quds kepada seluruh siswa.
Kehadiran Tokoh Internasional yang Menginspirasi
Kegiatan ini menghadirkan langsung Prof. Abdullah Al Fattah El-Awaisi, seorang guru besar dalam bidang hubungan internasional yang saat ini aktif sebagai peneliti di Inggris (UK). Beliau merupakan tokoh penting dalam kajian Baitul Maqdis dan dikenal luas melalui kontribusinya terhadap pengembangan studi-studi tentang Al-Quds di kancah global.
Dalam materinya, Prof. El-Awaisi menyampaikan pentingnya umat Islam memahami sejarah, makna, dan urgensi mempertahankan Baitul Maqdis, yang merupakan kiblat pertama umat Islam dan pusat peradaban penting dalam sejarah Islam. Ia menegaskan bahwa literasi mengenai Al-Quds tidak boleh berhenti pada pengetahuan historis saja, tetapi harus menjadi dasar untuk membangun kesadaran global terhadap isu kemanusiaan dan peradaban.
“Mempelajari Baitul Maqdis adalah bagian dari menjaga identitas dan masa depan umat. Semangat ini harus ditanamkan sejak dini kepada para pelajar,” tegas Prof. El-Awaisi dalam sesi pemaparannya.
Apresiasi untuk YPSJ atas Komitmen dalam Pendidikan Baitul Maqdis
Dalam kesempatan tersebut, Prof. El-Awaisi memberikan apresiasi yang tinggi kepada sekolah-sekolah di bawah YPSJ yang telah menunjukkan konsistensi dalam mengimplementasikan pendidikan tentang Baitul Maqdis. Beliau menyatakan bahwa langkah menghadirkan kurikulum literasi khusus ini merupakan terobosan signifikan dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia.
Kurikulum Literasi Baitul Maqdis yang mulai diterapkan ini diharapkan mampu:
- Menguatkan pemahaman siswa tentang sejarah dan pentingnya Al-Quds
- Membentuk karakter peduli terhadap isu kemanusiaan
- Mengembangkan perspektif global berbasis nilai Islam
- Mendorong aksi solidaritas nyata terhadap Palestina
Kegiatan Dihadiri Pengurus YPSJ, Orangtua, dan Siswa
Acara peresmian ini berlangsung dengan khidmat dan dihadiri oleh jajaran pengurus serta pembina YPSJ, para guru, orangtua siswa, tamu undangan, serta seluruh siswa dan siswi SMPIT–SMAIT Insan Mandiri Cibubur. Wali murid dari SD Silaturahim Islamic School juga turut hadir, menambah semarak dan kekhidmatan acara.
Keterlibatan orangtua menjadi bagian penting dalam penguatan kurikulum, karena pendidikan literasi Baitul Maqdis diharapkan berjalan selaras antara sekolah dan lingkungan keluarga.
Bagian dari Bulan Solidaritas Palestina
Acara ini juga menjadi rangkaian dari Bulan Solidaritas Palestina, sebuah program edukasi dan aksi sosial yang menggandeng Aqsa Working Group (AWG) serta Maimuna Center. Melalui kerja sama ini, sekolah ingin membangun kepedulian siswa terhadap kondisi Palestina sekaligus menghubungkannya dengan pembelajaran sejarah dan literasi.
Puncak acara ditandai dengan penyerahan donasi kemanusiaan dari Jamiiyah Wali Murid SD, SMP, dan SMA. Donasi yang berasal dari orangtua siswa tersebut berhasil mengumpulkan dana lebih dari Rp34.000.000. Dana ini kemudian diserahkan secara simbolis kepada presidium Maimuna Center dan akan diperuntukkan bagi Pembangunan Rumah Sakit Ibu dan Anak di Palestina.
Tindakan ini menjadi bukti bahwa pendidikan tidak hanya berhenti pada teori, tetapi melahirkan aksi nyata kemanusiaan dari para siswa dan keluarga besar YPSJ.
Wujud Komitmen Berkelanjutan
Melalui peresmian Kurikulum Literasi Baitul Maqdis ini, YPSJ berharap dapat menjadi pelopor pendidikan literasi Al-Quds di tingkat sekolah. Program-program lanjutan seperti kelas tematik, kajian khusus, projek aksi sosial, hingga kolaborasi lintas lembaga akan terus dikembangkan.
Dengan dukungan para pendidik, orangtua, dan mitra lembaga kemanusiaan, pendidikan tentang Baitul Maqdis diharapkan menjadi bagian tak terpisahkan dari pembentukan karakter pelajar muslim yang cerdas, peduli, dan berwawasan global.
Oleh: Ngatijo (Digital Marketing Expert)