You are currently viewing Perumpamaan Al-Qur’an tentang Kefanaan Waktu dan Implikasinya terhadap Etos Belajar Santri menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah

Perumpamaan Al-Qur’an tentang Kefanaan Waktu dan Implikasinya terhadap Etos Belajar Santri menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah

Perumpamaan Al-Qur’an tentang Kefanaan Waktu dan Implikasinya terhadap Etos Belajar Santri menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah

Waktu merupakan salah satu nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada manusia, namun sekaligus menjadi sesuatu yang paling sering disia-siakan. Dalam kehidupan santri, waktu bukan sekadar rangkaian detik, tetapi merupakan modal utama dalam menuntut ilmu. Al-Qur’an menegaskan kefanaan waktu melalui berbagai perumpamaan (amtsāl) yang menggambarkan betapa cepat dan sementara kehidupan dunia. Oleh karena itu, memahami konsep waktu dalam Al-Qur’an menjadi sangat penting untuk membangun etos belajar yang kuat di kalangan santri.

Al-Qur’an menggunakan gaya bahasa perumpamaan untuk menggambarkan kehidupan dunia yang fana dan cepat berlalu. Salah satu ayat yang sangat representatif adalah:

إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْأَنْعَامُ

(QS. Yunus: 24)

Ayat ini menggambarkan kehidupan dunia seperti air hujan yang menumbuhkan tanaman, kemudian dalam waktu singkat menjadi kering dan hancur. Perumpamaan ini menegaskan bahwa waktu berjalan cepat dan tidak dapat diulang, sebagaimana tanaman yang tidak mungkin kembali segar setelah kering.

Selain itu, Al-Qur’an juga menegaskan kerugian manusia yang tidak memanfaatkan waktu:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

(QS. Al-‘Ashr: 1–2)

Ayat ini menunjukkan bahwa seluruh manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang mampu memanfaatkan waktunya untuk iman, amal saleh, dan ilmu.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah memberikan perhatian besar terhadap nilai waktu dalam kehidupan seorang Muslim. Ia menyatakan:

إِضَاعَةُ الْوَقْتِ أَشَدُّ مِنَ الْمَوْتِ

“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya daripada kematian.”

Menurutnya, kematian hanya memutus hubungan manusia dengan dunia, sedangkan menyia-nyiakan waktu berarti memutus hubungan dengan Allah dan kehidupan akhirat. Ia juga menegaskan bahwa hati manusia akan rusak jika tidak diisi dengan aktivitas yang bermanfaat:

مِنْ عَلَامَاتِ مَقْتِ اللَّهِ لِلْعَبْدِ إِضَاعَتُهُ لِلْوَقْتِ

“Di antara tanda kebencian Allah kepada seorang hamba adalah ia menyia-nyiakan waktunya.”

Pandangan ini menunjukkan bahwa waktu bukan sekadar aspek teknis, tetapi memiliki dimensi spiritual dan moral yang sangat dalam.

Implikasi perumpamaan Al-Qur’an terhadap etos belajar santri tampak jelas dalam pembentukan kesadaran mendalam tentang nilai waktu. Al-Qur’an melalui berbagai amtsāl menanamkan bahwa waktu berjalan sangat cepat dan tidak dapat diulang, sehingga santri yang memahami hal ini akan terdorong untuk lebih disiplin dalam belajar serta menghindari aktivitas yang tidak bermanfaat. Dalam perspektif Ibnu Qayyim al-Jauziyah, waktu seharusnya diisi dengan hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah, sehingga santri dituntut untuk memprioritaskan ilmu yang bermanfaat, bukan sekadar hiburan yang melalaikan. Lebih jauh, etos belajar yang kuat tidak mungkin terwujud tanpa adanya pengendalian diri (mujāhadah), yaitu kemampuan melawan rasa malas, kebiasaan menunda, serta berbagai distraksi, khususnya di era digital. Selain itu, pemanfaatan waktu secara optimal juga menuntut konsistensi (istiqāmah), karena belajar yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit akan lebih efektif dibandingkan belajar dalam jumlah besar namun tidak teratur. Pada akhirnya, seluruh upaya ini berakar pada orientasi akhirat, yakni kesadaran bahwa setiap waktu yang dimiliki akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, sehingga aktivitas belajar tidak hanya dipandang sebagai kewajiban akademik, tetapi juga sebagai bentuk ibadah yang bernilai spiritual.

Di era digital, tantangan terbesar santri adalah distraksi teknologi yang menyita waktu. Perumpamaan Al-Qur’an tentang kefanaan dunia menjadi sangat relevan sebagai pengingat bahwa kesenangan sesaat seperti media sosial dan hiburan digital tidak sebanding dengan nilai waktu yang hilang. Pemikiran Ibnu Qayyim memberikan solusi dengan menekankan pentingnya mengisi waktu dengan aktivitas yang bernilai ibadah dan ilmu, sehingga santri tidak terjebak dalam rutinitas yang sia-sia.

Perumpamaan Al-Qur’an tentang kefanaan waktu memberikan pelajaran mendalam bahwa kehidupan dunia bersifat sementara dan waktu berjalan sangat cepat. Pemikiran Ibnu Qayyim al-Jauziyah menegaskan bahwa menyia-nyiakan waktu merupakan kerugian besar yang berdampak pada kehidupan dunia dan akhirat.

Bagi santri, pemahaman ini harus diwujudkan dalam bentuk etos belajar yang tinggi, disiplin waktu, dan orientasi spiritual. Dengan demikian, waktu tidak hanya menjadi sesuatu yang berlalu, tetapi menjadi sarana untuk meraih keberkahan ilmu dan kedekatan dengan Allah SWT.

Oleh: Abdullah, S.Pd (Musyrif Mahad Khulafaur Rasyidin Insan Mandiri Cibubur)